-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026

Stadion Mandala Remaja Karang Panjang, Ambon akhirnya menjadi ramai setelah lama ‘mati’. Rumah bagi tim-tim besar sepak bola di Ambon itu telah ditinggalkan pemerintah. Alasannya super klasik, tidak ada anggaran untuk mengurusnya. Tetapi pada 25 Mei 2026, orang-orang yang pernah mengejar ‘impian’ distadion tersebut hadir untuk bereuni pada masa-masa keemasan mereka.
Mereka hadir dengan kepala tegap, menghadap hijaunya lapangan yang diperbaiki beberapa hari sebelum Final Soekarno Cup tahun 2026 Zona Pulau Ambon-Lease digelar. Para mantan pemain Pusparagam, Kuda Laut, PSA dll yang hadir penuh gelak tawa. Melihat Stadion itu kembali hidup. Dipenuhi pendukung dan sporter dari Kabarezsy FC dan Tariwiri FC.
Bagi eks pemain sepak bola di Ambon dan Maluku, kehadiran di Mandala Remaja Stadion buka sekedar menyaksikan laga final, tetapi bertemu kembali dengan semangat dan impian masa lalu mereka. Mandala Karang Panjang punya banyak cerita, sekaligus menjadi ‘stadion’ yang menguburkan banyak impian bagi generasi muda Maluku.
Sepak bola adalah olahraga yang memadukan fisik dan physics. Dua-duanya harus berbarengan agar melahirkan keindahan atau seni mengolah sikut bundar. Seorang pesepak bola yang memadai akan memperoleh julukan seniman. Karena mampu membuat sepak bola yang mamdukan kecepatan, teknik dan mental menjadi tontotan yang menarik bagi publik.
Itulah yang sedang dilakukan PDI Perjuangan Maluku, menjadikan sepak bola sebagi seni menembus market politik elementer penting dalam kultur olahraga Maluku. Ya, sepak bola. Soekarno Cup U-17 yang digelar untuk dimainkan para talenta setiap kampung dan dusun di Maluku memantik perhatian luas. Baik yang pro maupun kontra. Lepas dari kontroversi itu, PDI Perjuangan telah mencapai satu point penting yakni toon. Bagimana Soekarno cup menjadi pilihan tema obrolan, perspektif publik dan analisis elektoral politik publik. Inilah game sesungguhnya yang diperoleh PDI Perjuangan Maluku.
Soekarno Cup dan Trough Pass ke Pertahanan Gen Alpha
Soekarno Cup bukan sekedar turnamen sepak bola, bisa jadi ini merupakan umpan terebosan yang dibangun lewat lapangan tengah PDI Perjuangan ke pasar milenila dan gen alpha. Selain memiliki hobby nongkrong dan scroll hp, generasi ini gagap terhadap sepak bola. Baik gawang mini, futsal atau gawang besar (sepak bola). Gila bola ini membuat para generasi yang tumbuh dalam pengaruh algoritma ini, memiliki varian istilah teknis sepak bola. Semisal, menyebut kompoisi pemain dengan starting eleven, passing, back pass dll.
Istilah-istilah ini kemudian menemukan momentumny ketika Soekarno Cup U-17 tahun 2026 bergulir. Jika melihat penampilan para starting di lapangan, hampir sebagian besar memiliki penampilan yang mengikuti trand sepak bola internasional. Potongan rambut, kinesio tape (teping) yang dibalut pada lengan dan kepalang tangan pemain hingga selebrasi gol yang seolah merespresentasikan kecintaan terahadap sepak bola dan figur sepak bola.
Euphoria ini sungguh terasa, hal itu bisa dilihat melalui berbagai media daring dan lini masa media sosial. Umpan terebosoan PDI Perjuangan Provinsi Maluku disambut baik pecinta sepak bola Maluku dan membuat turnamen ini tidak sekedar perebutan juara, tetapi menjadi jalan bangkit sepak bola Maluku.
Antusiasme publik harus bisa dijawab PDI Perjuangan Maluku dengan penuh tanggung jawab. Tugas PDI Perjuangan Maluku, tidak hanya menyelesaikan penyelenggarakan turnamen Soekarno Cup U-17 tahun 2026 di empat zona yakni Pulau Ambon dan Pulau Lease, zona Kota Masohi dan Seram Selatan, Zona Kabupaten Seram Bagian Timur dan Seram Utara serta Zona Kabupaten Seram Bagian Barat.
Tetapi, bagi pecinta sepak bola, Soekarno U-17 menjadi project mercusuar untuk mendorong talenta lokal agar bisa bersinar ke level nasional. Apalagi, event yang mulai dilakukan DPD PDI Perjuangan Maluku tahun ini, memberikan kesempatan emas kepada talenta U-17 bisa tampil pada putaran nasional yang rencananya akan digelar Juli-Agustus 2026 di Jawa Timur.
Sepak Bola menjadi olah raga paling populer di Indonesia. Khususnya di Maluku, pada era 190-an hingga memasuki tahun 2010, banyak pemain dengan talenta orisinal asal Maluku masuk dalam skuad Tim Nasional Indonesia. Maluku, tidak hanya kaya dengan sumber daya hutan, tambang mineral-gas, laut dan kebudayaan, tetapi juga kaya akan potensi sumber daya sepak bola dengan nilai pasar fantastis.
Sayangnya, daerah ini hanya sebagai produsen dengan skala kecil yang hanya bisa menyuplai taltena satu atau dua orang untuk kebutuhan pasar nasional. Minimnya kompetisi dan fasilitas serta kebijakan khusus untuk sepak bola menjadi problem krusial daerah ini. Akhirnya, para talenta yang bisa bersinar di level nasional hanya bisa bertahan dengan bakat dan skill pada liga antar kampung atau kompetisi perebutan juara angkatan. Ini sebuah ironi sekaligus problem serius yang harus mendapatkan perhatian pemerintah daerah ditengah daerah-daerah lain seperti Papua, Maluku Utara dan Makassar yang terus membangun sepak bola menjadi idusteri penting penghasil cuan.
Dengan bergulirnya kompetisi Liga Antar Kampung Soekarno Cup tahun 2026 Regional Maluku-Maluku Utara yang diselenggarakan PDI Perjuanga, para publik pecinta sikulit bundar tidak hanya bereuni dengan harapan masa lalu, tetapi juga sedang ikut menyalakan api harapan ditengah ‘lembabnya’ perhatian pemerintah dan stakholder terkait sepak bola.
Soerkarno Cup yang telah memasuki finish turnamen mengahdirkan dua harapan sekaligus, pertama, menjadi event tahunan untuk memastikan siklus sepak bola terus berlanjut. Adanya pembinaan talenta secara rutin dengan kepastian turnamen tahunan dan kedua, memberikan akses terhadap para talenta untuk bisa mencicipi atmosfir kompetisi nasional dan berpeluang masuk dalam ‘buruan’ team-teman nasional untuk kompetisi profesional.
Dua hal ini bukan sekedar momentum bagi PDI Perjuanga, tetapi tanggung jawab yang merupakan goals dari strategi politik untuk merebut captive market politik pemilih pemula atau gen alpha. Tanggung jawab ini membutuhkan keseriusan implementatif. Jika tidak, maka akan menjadi boomerang. Publik terlanjur percarya pada bola yang terus bergelinding pada memoar kebangkitan Maluku lewat sepak bola. Ditengah krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah untuk memperhatikan stadion Mandala Karang Panjang Ambon, PDI Perjuangan justeru meyajkinkan publik Maluku jika markas PSA dan tim-tim Maluku lainnya itu bukanlah stadion masalalu, tetapi, final U-17 Soekarno Cup membuka harapan bahwa, masa depan sepak bola mulai ditulis kembali lewat kaki-kaki talenta muda diatas lapangan kebanggaan masyarakat Maluku.
PDI Perjuangan kini berada dekat dengan hati pecinta sepak bola Maluku. Melalui Soekarno Cup, Publik mulai menaruh cinta yang dalam terhadap PDI Perjuangan agar bisa menjadi jawaban atas mapetnya bakat olah raga di daerah ini yang tak tersalurkan. Dalam telah terlempar kedalam memori pemilih yang cair. Yang tidak mendasari kesukaan politik pada patronase atau ideaology partai, melainkan, PDI Perjuangan telah merambah ke permainan yang melekat pada tradisi ke-timuran orang Maluku. Ini sungguh angka elektoral yang dapat dibaca dalam pemilu nantinya.
Menariknya, Soekarno Cup telah membentuk Shared Perception bahwa, sepak bola di Maluku tidak hanya berhenti pada kejayaan masa lalu. Cerita-cerita masalalu ibarat mitos yang menghentikan kemampuan talenta muda. Orang-orang yang hidup pada periode sepak bola konvensional adalah lompatan bagi anak-anak muda untuk meraih prestasi. Dan jawabanya adalah Soekarno Cup. Turnamen yang awalnya dianggap sebagai panggung pencitraan politik, namun, mampu menembus tabir apatisme elit olahragwan di Maluku.
Ini menjadi bukti, keputusan mediang Jhon Mailoa untuk menggelar turnamen Mailoa Cup di Tulehu dalam kondisi konflik sosial di Maluku bukan perkara mudah. Mendiang Jhon Mailoa harus melawan paranoid konflik dan memilih menjadi orang netral untuk memberikan jawaban terhadap masa depan sepak bola Maluku. Keputusan Jhon Mailoa tidak hanya menjadi basic rekonsiliasi tetapi juga menghidupkan nama Sani Tawainela (alm), yang mampu mewujudkan mimpi Maluku di kancah nasional. Para talenta U-15 Maluku yang ikut kompetisi pilakda Madco tahun 2025 adalah goals dari apa yang di-patri-kan Mendiang Jhon Mailoa.
Setelah Piala Madco, Maluku sulit menemukan originalitas talenta untuk bersaing pada level nasional. Meski banyak pemain asal Maluku bersinar di liga nasional bahkan menembus ketatnya perasingan tim nasional. Tetapi, menjadi Maluku yang ‘satu’ untuk mencatatkan nama kembali di panggung nasional rasanya sungguh sulit dilakukan. Intrik dan manuver tidak bisa dipisahkan dari ruang ganti sepak bola. Ini merupakan bagian dalam perjalanan tim dan karier pesepak bola umumnya. Namun, kompetisi Soekarno Cup dengan memadukan talenta-talenta dari berbagai daerah akan menajadi modal penting bagi Maluku kedepan.
Secara profesional, PDI Perjuangan jelang kompetisi Soekarno Cup 2026 bergulir, partai yang mengusung idealogi nasionalisme-kerakyatan (wong cilik) itu membentuk tim pemandu bakat (scouting talent). Tujuannya jelas, mencari pemain potensial untuk dibentuk sebagai tim solid ke putaran nasional. Tim ini bekerja secara silent. Tidak terkonfirmasi, dan memastikan yang diambil adalah talenta dengan kesiapan tekhnik dan skill memadai. Tidak ada koncoisme, satu siklus yang mereduksi potensi talenta yang lain. Itulah mengapa, pekerjaan PDI Perjuangan tidak gampang. Mereka sedang menyusun proyeksi masa depan untuk sepak bola Maluku. Dari situ, kita bisa menemukan setiap tendangan pesepak bola U-17 Maluku menjebol gawang adalah goals elektoral bagi PDI Perjuanga. (*)