Foto Dua Sahabat, Umar Ali Lessy Tenaga Ahli Kementerian ESDM dan DR. Said Ernas, Wakil Rektor UIN AMSA Ambon.

Sahabat Umar Ali Lessy: Dari Lorong Aktivisme ke Panggung Nasional

1,306

Oleh: Saidin Ernas

Sore hari ini (25/06/2025) saya berkesmpatan berjumpa dengan sahabat lama saya, Umar Ali Lessy, nama yang mungkin tak terlalu sering tampil di media, tapi kiprahnya buat saya inspiratif, Ia kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Administrasi Negara dan Good Governance. Pertemuan ini tak hanya menggugah nostalgia masa muda sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Maluku, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang kerja-kerja kolaboratif yang akan kami jalankan ke depan.

Hal yang paling menyentuh dari perjumpaan ini adalah kesederhanaan Umar yang tidak berubah. Ia tetap seperti dulu: rendah hati, hangat, dan siap membantu teman. Jabatan tidak mengubahnya menjadi elitis. Justru di tengah kesibukannya sebagai pejabat negara, ia menyambut dan berdiskusi seperti seorang kawan yang lama tak bertemu. Sikap ini menjadi napas dari integritas yang dibawanya—bahwa kekuasaan bukan untuk meninggikan diri, melainkan memperluas pengabdian.

Saya mengenal Umar bukan karena posisinya hari ini, tetapi karena perjalanan panjang yang ia tempuh. Kami sama-sama digembleng oleh atmosfer pergerakan mahasiswa, tempat idealisme dan tanggung jawab sosial bertemu dalam ruang-ruang diskusi, advokasi, dan aksi. Dari lorong-lorong perjuangan itulah Umar menapaki karier profesionalnya.

Pasca kampus, ia tidak langsung berada di lingkar kekuasaan. Ia memulai dari bawah, menunjukkan dedikasi dan kemampuan secara bertahap. Ketika Pak Bahlil Lahadalia dipercaya menjadi Menteri Investasi, Umar dipilih sebagai staf kepercayaan—bukan karena kedekatan semata, tetapi karena kemampuan dan loyalitasnya. Kini, saat Bahlil menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Umar kembali dipanggil untuk mendampingi, kali ini dengan tanggung jawab strategis sebagai tenaga ahli di bidang yang krusial: administrasi negara dan tata kelola pemerintahan. Saya sendiri tidak pernah membayangkan bahwa Umar yang saya kenal dulu bisa sampai ke jabatan penting seperti itu.

Posisi itu tidak datang begitu saja. Ia dibangun melalui konsistensi kerja, kedalaman pemahaman terhadap sistem birokrasi, dan karakter yang tidak mudah goyah. Dalam dirinya, loyalitas tidak berarti membebek, melainkan keteguhan dalam menjalankan tugas secara professional, beretika dan produktif. Figur sahabat Umar mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang cepat berubah, nilai-nilai dasar seperti kepercayaan, komitmen, dan integritas tetap menjadi mata uang utama dalam dunia pengambilan keputusan.

Bagi generasi muda Maluku, mungkin Umar adalah cermin bahwa kesuksesan bisa ditempuh melalui komitmen, loyalitas dan kerja keras. Ia hadir sebagai pengingat bahwa dunia birokrasi dan kekuasaan masih bisa diisi oleh orang-orang yang bekerja dalam diam, dibalik layar, yang lebih memilih menjadi pelaku daripada pencitra. Semoga kisah Sahabat Umar Ali Lessy menjadi inspirasi dan dorongan bagi lebih banyak anak muda Maluku dan Indonesia Timur untuk terus bermimpi, bekerja keras, dan mengabdi tanpa kehilangan jati diri. Karena dari lorong-lorong sunyi perjuangan, kita semua bisa sampai ke panggung pengabdian yang lebih besar—asal setia pada jalan yang ditekuni. (*)