Ramalan; Menemukan Peristiwa Dalam Keraguan

142

PERISTIWA-peristiwa besar dunia yang terjadi, kadang dikaitkan dengan ramalan Michel de Nostradame. Seorang peramal berkebangsaan Prancis yang hidup pada Abad ke XVI Masehi. Dalam karya Les Prhopeties, puisi-puisi metaforis yang ditulis Nostradamus diklaim sebagai ramalan yang behubungan dengan beberapa pertiwa sejarah dunia. Mulai dari Kemunculan Napaleon Bonaparte, Lahirnya Hitler hingga peristiwa Word Trade Center (9/11) di New York, Amerika.

Meski, sebagian menganggap klaim atas ramalan Nostradamus memiliki tingkat akurasi rendah, namun, bagi mereka yang percaya pada cara kerja mitologi meyakini apa yang ditulis Nostradamus sebagai sebuah gambaran peristiwa pada masa depan umat manusia. Dalam tradisi filsafat rasionalisme Plato, ramalan dianggap sebagai kegilaan ilahiah. Dimana, bagi Plato, kesadaran manusia diambil alih para dewa untuk inspirasi spritual dalam menyampaikan kebenaran ilahi.

Tentunya, ramalan bagi para rasionalisme tidak bisa diterima. Apalagi, ramalan atau prediksi tanpa menggunakan analisis empirisi, konsisi sosio-cultural dan kebiasaan politik suatu komunitas masyarakat. Kebiasaan politik lebih pada idealitas satu komunitas dalam membangun kesadaran dan kesepahaman (konsensus) atas suatu keputusan yang berhubungan dengan banyak orang (masyarakat).

Peramal (mantis) bagi Plato, menerima pengetahuan yang sulit dipahami akal sehat atau melampaui proses berpikir diskursif manusia biasa. Ini mengacu pada standar empirisme sebagai indikator penting yang menghubungan rasio manusia dengan satu peristiwa yang bisa diterima berdasarkan pada kejadian atau keyakinan atas hubungan masa lalu.

Sama halnya dengan Plato, di Indonesia, kritik terhadap keyakinan astrologi dan mitos terjadi pada fase perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kritik tersebut disampaikan Datuk Ibrahim atau dikenal dengan Tan Malaka. Kritik Tan Malaka kepada model perjuangan masyarakat Indonesia yang cenderung percaya terhadap mitologi dibandingkan rasionalisme, kritisisme dan solidaritas yang dibangun berdasarkan kesadaran bersama atas pendindasan imprealisme dan kolonialisme asing.

Lewat magum opus Matrealisme, Dialektika dan Logika (Madilog), Tan Malaka mengkritik kebiasaan masyarakat Indonesia yang terus mengkaitkan segala peristiwa dengan kekuatan diluar keberadaan manusia (gaib). Dia menolal sesuatu yang immateri dapat menentukan kehidupan manusia. Baginya, Logika Mistika orang Indonesia menjadi penyebab utama masyarakat menjadi terbelakang dan terjajah.

Meski logika menolak cara kerja ramalan, tetapi masyarakat moderen sampai saat ini tetap percaya terhadap prediksi-prediksi yang diramalkan baik dalam aspek bisnis, jodoh, sampai pada takdir hidup manusia. Ini menjadi permualaan 'realitas' yang dikonstruksikan secara samar dan abstrak. Para peramal tidak sekedar menjadi transleter pesan gaib, tetapi menafsirkan teks dan symbol sebagai bagian dari komunikasi (dunia gain). 

Tafsiran ini kemudian menjadi bagian dari metodologi ilmiah atau dikenal dengan metode intrepretasi (semiologi) dalam menopang prediksi manusia moderen.

Ramalan diyakini bekerja atas gejala yang relative sama pada  suatu peristiwa di alam semesta, justeru mudah menjelaskan satu peristiwa yang akan terjadi. Bisa dibilang, prediksi cuaca, pacuan kuda dll. Ini penting sebagai pemodelan epistemologi bagi manusia. 

Selain itu, cara perhitungan tanggal Muharram dalam tradisi masyarakat Islam cultural sebelum adanya teknologi yang membantu manusia untuk memetakan peristwa astronomi hilal. Menghitung peristiwa langit yang terjadi dalam kurun waktu tertentu secara berulang.

Atau cara sejarah menjelaskan astronomi maritim, yang merupakan suatu metode pelayaran kuno yang mengandalkan posisi benda langit (bintang putih) sebagai kompas untuk memetakan arah perjalanan di samudera luas. Metode ini digunakan bangsa-bangsa besar Majapahit, bangsa Polinesia, Viking, bangsa Arab bahkan para pelaut Nusantara seperti Bugis-Makassar. Bintang putih adalah tanda penting bagi pelaut dalam meramal atau memprediksi arah tujuan berdasarkan probabilitas yang berulang.

Ramalan Gurita Paul

Ramalan yang diragukan tapi pada peristiwa gelaran Piala dunia 2010 harus diterima sebagai satu peristiwa yang diterima masyarakat dunia.

Cerita menarik pada kompetisi terbesar di jagat raya ini adalah ramalan Paul, seekor Gurita dari Sea Life Centre, Oberhausen, Jerman yang memprediksi Spanyol sebagai Juara Piala Dunia Di Afrika. Prediksi Paul sulit diterima rasio dan moralitas manusia. Sebab, ramalan Paul tidak menjelaskan situasi kebetulan. Sebelum memprediksi kemenangan Spanyol, Gurita Paul delapan kali menebak kemenangan Jerman secara akurat. 

Rasionalitas akan menolak premis yang menyebut, apa yang di pegang paul adalah takdir yang telah ditetapkan. Itulah mengapa rasionalitas menolak ramalan yang mendasarkan prediksi pada sesuatu diluar kemampuan manusia.

Agar menolak kerja mitologi, para ahli mengaitkan perilaku Paul denegan beberapa metode seperti Peluang Matematika Murni (The Impropabiliti Principle), Bias Seleksi, Preferensi Visual dan Bau hingga Pengkondisian Perilaku Hewan (Operant Conditioning).

Sebenarnya, yang diasumsikan peneliti sangat berkaitan dengan logika mistika di Indonesia atau kepercayaan masyarakat dunia terhadap sesuai yang gaib. Bahwa, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab awal. Dan sesuatu yang terjadi itu, tidak bisa diulang dalam kondisi yang sama, begitulah preferensi masyarakat atas kepercayaan mitologi. Sesuatu yang menjadi latar belakang untuk menebak takdir setiap orang. Hampir sama dengan cara kerja Peluang Matemamtika Murni, bisa saja jutaan manusia keliru dalam memprediksi masa depan mereka, tetapi ada manusia yang tepat memprediksi kejadian di alam semesta dengan hampir presisi. “Dalam prinsip probabilitas, jika ada puluhan bahkan ratusan hewan di berbagai kebun binatang di seluruh dunia yang dijadikan "peramal" namun gagal, secara statistik wajar jika ada satu hewan yang kebetulan mengalami rentetan tebakan benar secara beruntun” (The Impropabiliti Principle).

Dengan begitu kita percaya bahwa, takdir kemenangan Spanyol pada 2010 bekerja melalui Paul Gurita. Meski, takdir tidak berdiri tunggal. Selalu saja ada peristiwa-peristiwa menuju sebuah ketetapan (takdir). Peristiwa-peristiwa itu menjadi sebab agar ramalan bisa bekerja dengan akurat, seperti ramalan Joachim Klement, seorang ekonom Jerman yang mampu menebak kemenangan hattrick selama tiga kali gelaran Pilada Dunia. Mulai dari 2014, 2018 hingga 2022.

Prediksi Klement dengan melibatkan sejumlah variable seperti, aspek sosiologis, ekonomi negara, iklim, dan peringkat dalam FIFA. Varibale ini kemudian menjadi pemodelan dalam mengukur tingkat akurasi prediksi. Meski, Jaochim mengklaim jika pemodelannya hanya bisa akurat 50% dan sisanya adalah keberuntungan. Tentunya, metodologi analisis yang digunakan Joachim adalam Matematika Murni dalam menempatkan probalitas hanya sebagian, sisanya bergantung pada keberuntungan. Seperti halnya kita melempar dadu, 50% adalah prediksi dan sisanya keberuntungan. Jika keduanya terjadi, maka kita menyebut sebagai sebuah feeling.

Piala dunia ini, Joachim mengunggulkan Belanda. Negara yang disebut sebagai The Crownless Prince (Pangeran Tanpa Mahkota). Belanda adalah tim dengan skuad yang tangguh dan unggul. Punya basis sepak bola yang dikenal luas. Apalagi liga belanda begitu kompetitif. Banyak sudah pemain-pemain yang lahir dari atmosfir era devisi. Namun, prediksi Joachim yang menyebut keberuntungan adalah faktor fundamental membuat ramalan itu terasa absurd. Beberda dengan Paul si Gurita yang tidak menjelaskan faktor keberuntungan. Sehingga publik percaya bahwa ada kekuatan gaib yang bekerja melalui pilihan Paul.

Ramalan Kejatuhan Rupiah

Saat nilai tukar rupaih menjadi Rp. 18.000/ 1 USD, laman sosial media ramai membicarakan ramalan seorang ekonom berpengaruh abad 21 di Indonesia. Ya, mendiang Faisal Basri yang sebelum menutup usia pada 2024 akibat serangan jantung, ia telah menginformasikan kondisi bangsa ini di tahun 2026. 

Sang ekonom menggambarkan kondisi hari ini pada dua tahun lalu; Pelemahan Rupiah akan membuat beban pembayaran utang luar negeri melonjak tajam. Hal ini akan menjebol APBN dan menyebabkan pemerintah tidak lagi mampu memberikan subsidi kepada masyarakat. Ramalan itu seolah terbukti. Kenaikan harga BBM subsidi mengkonfirmasi perhitungan sang ekonomi betapa rentannya kondisi fiskal negara sejak 2024.

Ramalan sang ekonom tidak dibangun atas pesimisme kepeminan nasional atau sentimen politik kepemimpinan, tetapi ramalan yang dilakukan bekerja atas fakta-fakta empirik yang berulang sebagai bahan analisis subjektiv untuk mennentukan suatu tesis secara umum yang berkaitan dengan kondisi ekonomi bangsa  yang menjadi bahan penelitian dan perenungannya. Fakta ekonomi sangat berkaitan dengan kebijakan politik kepala daerah. Atau campur tangan politik negara. Inilah mengapa, situasi ekonomi bisa terdampak akibat hubungan politik elit yang bertentangan.  

Sehingga dalam perhitungannya, sang ekonom menjadikan memasukan kejatuhan ekonom dan beban fiskal neagra dapat diperparah akibat konflik politik Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo. Meski, sinyal keterbelahan kepentingan dalam pengelolaan negara tak begitu tampak, namun, dalam pola pembagian kewenangan, publik mulai menaruh curiga adanya conlfict of interest antara pengausa hambalang dan geng solo. Miisalkan saja, bagimana respons publik atas sikap Projo (Pro Jokowi). Organisasi politik masyarakat yang dibentuk sebagai relawan pemenangan Jokowi di Pemilu dua periode yang belakangan berubah haluan mendukung Prabowo.

Projo yang merupakan bumper politik Jokowi yang berbalik haluan ke Hambalang, membuat kubu Solo panas dingin. Jokowi yang tak ingin pengaruhnya hilang dalam belantika politik nasional, mulai melakukan konsolidasi terhadap para loyalis Jokowimania. Dengan gimmick ‘wong deso’, Jokowi percaya, tampilan sederhannya adalah mantra pemikat dukungan publik. Jokowi menguji magnetoral politiknya dengan melawan arus idealogy dan jejak sejarah. Melawan PDI Perjuangan dan seluruh simpatisannya bukanlah pilihan paling baik, tetapi kesempatan sulit untuk tetap hidup dalam arus utama politik.

Ingat guyonan Jokowi sebelum mengakhiri masa jabatan sebagai Presiden ke 7 RI, “Saya akan kembali ke Solo sebagai rakyat biasa”. Pernyataan ini bukanlah ungkapan perasaannya yang lahir dari wong cilik, melainkan sebuah satire yang ditujukan kepada PDI Perjuangan atas konsekuensinya memutuskan hubungan idea-politik yang terbangun puluhan tahun. Jokowi adalah arsitek yang lihai membangun underpass politik saat PDI Perjuangan sedang berada diatas angin.

Setelah berkonflik dengan PDI Perjuangan, Jokowi yang merupakan Decesion Maker pada kandidat Gemoy di Pilpres 2024 mampu mengubah peta sejarah politik nasional. Prabowo Subinato yang merupakan lawan tanding selama periode 2014-2019 dan 2019-2024 dipinang Jokowi sebagai Presiden untuk memuluskan jalannya untuk ‘menguasai’ kebudayaan politik nasional. Tapi Jokowi lupa  bahwa, politik adalah dimensi yang sulit ditebak. Punya sisi mitologi yang kuat. Para politisi percaya terahadap ramalan. Itulah mengapa, sikap dan keputusan politik selalu bersandar pada informasi para peramal yang menjadi ‘guru spritual’ mereka.

Duet Prabowo-Jokowi tak lama. Setahun berjalan, Prabowo merasa dinamika politik kepemimpinan nasional begitu keras. Kabinet ‘titipan’ tidak cukup untuk membangun citra politik yang adem bagi rakyat Indonesia. Apalagi, PDI Perjuangan yang lahir dari kelas ‘opisisi’ pada kabinet Orde Baru, masa kejayaan ‘Cendana’ berada pada luar garis pemerintahan, Prabowo yang merupakan ‘anak’ politik Cendana paham betul PDI Perjuangan bukan partai oplosan yang dihuni para kader karbitan. Kader PDI Perjuangan adalah pejuang ideology yang tunduk terhadap perintah Pimpinan partai sebagai katalisator konstitusional partai. Garis perjuangan ideaology yang tak bisa ditawar.

Dinamika yang sulit ini, seakan membenarkan ramalan Faisal Basri, bahwa, dukungan PDI Perjuangan sangat penting bagi kepemimpinan politik Prabowo. Beberapa kali, media mengkonfirmasi pertemuan dua tokoh nasional itu, Prabowo dan Megawati. Pertemuan keduanya tidak bisa diafirmasi hanya sebatas reuni biasa, tetapi ada pendalaman dan masukan politik yang dilakukan keduanya.

Pertemuan-pertemuan yang puncaknya pada Peringatan hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026 itu akan menjadi kerikil bagi dinasti politik yang ingin dibangun Jokowi. Jokwoi tak ada pilihan selain ‘melawan’ realitas politik yang dibangun sebelumnya. Imajinasi kekuasaan yang begitu kuat, membuat Jokowi tak ada pilihan selain membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan sisa penagruh yang dimiliki.

PSI yang merupakan partai ‘kelas’ dua dibangsa ini dipermak. Strategy rekruitmen kader dirubah. PSI tidak melihat kaderisasi yang berjenjang sebagai proses penguatan basis dan perjuangan idealogy, melainkan PSI menguah strategi rekruitmen dari kaderisasi dan internalisasi idealogy partai menjadi ‘pembegalan’ elektoral. PSI lebih tertarik menaturalisasi kader partai Nasdem, PDI Perjuangan atau partai politik lain. Strategi ini dianggap penting untuk mendongkrak elekatbitas partai menghadapi Pemilu 2029. Selain dilihat punya implikasi statistik terhadap elektabilitas, migrasi politik ke PSI juga menciptkan fenomena Jokowi effect kepada masyarakat. Artinya, masyarakat terkonfirmasi bahwa berpindahnya sejumlah pengurus atau elit partai ke PSI karena faktor Jokowi. Variable inilah menjadi ‘tesis’ pesan kepada Prabowo bahwa Indonesia memnutuhkan Jokowi, bukan Megawati. Konflik keduanya, memang tidak terang-terangan, namun keputusan MK yang ikut mengkonfirmasi poryek IKN disfungsi sebagai ibu kota negara juga menjadi alasan publik curiga bahwa gubungan dua ‘Gemoy’ ini tak lagi seirama.

Meski konflik politik keduanya memang belum bisa menjadi faktor penting terhadap kondisi ekonomi bangsa, nama apa yang diramalkan ekonom Faisal Basri bisa menjadi bagian terpenting dalam krisis politik kita saat ini.

Ditengah kondisi negara yang divonis para ekonomi tengah memasuki fase krisis, publik kembali merenung. Menanti sebuah ramalan kuno Prabu Jayabaya. Raja Kerajaan Kediri itu meramal jika akan datang seorang Satrio Piningit untuk membebaskan nusantara dari krisis yang menimpa. Sepertinya masyarakat akan tetap menunggu Ramalan Prabu Jayabaya hingga langit akan runtuh.

Sebab, jani para pemimpin untuk menjadikan negeri yang Gemah Ripah Lok Jinawe ini (Masyarakat yang subur, makmur yang kaya sumber daya alam dan adil) masih jauh dari ramalan sang Prabu.

Nusantara hanya berisi pesan supremasi Hukum, masyarakat sehat dan bergizi (MBG), serta limpah ruah sumber daya pangam (Swasembada Pangan), adalah cerita-cerita yang tidak bisa ditemukan dalam ramalan kekuasaan politik di bangsa ini. (*)