Penulis

Perjalanan Menuju Diri Sendiri

217

Oleh : Risno Ibrahim

Ada sebuah kisah lama tentang seorang anak gembala yang memandangi langit malam seperti seseorang memandangi masa depan yang belum ditulis. Namanya Santiago. Ia hidup sederhana di padang rumput Andalusia, ditemani domba-dombanya, angin yang dingin, dan langit yang luas seperti kitab yang terbentang.

Hidupnya sebenarnya cukup. Domba-domba mengenalnya. Jalan dan padang rumput tak asing baginya. Hatinya selalu cerah ketika bangun seperti matahari yang kembali saat pagi. Namun ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, sejenis bisikan halus yang sering muncul ketika ia tidur di bawah reruntuhan gereja tua. Ia bermimpi tentang harta karun yang tersembunyi di kaki piramida Mesir. 

Mimpi itu datang dua kali. Dan mimpi yang kembali biasanya membawa pesan.
Kebanyakan orang akan mengabaikannya. Menganggapnya sekadar bunga tidur dari pikiran yang lelah. Tapi ada jenis manusia tertentu yang tidak bisa berdamai dengan rasa penasaran. Santiago termasuk di antaranya. Ada api kecil di dadanya yang berkata, mungkin hidup ini lebih besar daripada padang rumput yang sudah kita hafal.

Maka suatu hari ia menjual domba-dombanya. Keputusan itu tidak terasa seperti keberanian. Lebih seperti melompat ke dalam kabut. Ia meninggalkan Spanyol, menyeberang ke Afrika, masuk ke dunia yang tidak mengenal namanya. Dan dunia menyambutnya dengan keras. Uangnya dicuri. Bahasanya tak dimengerti siapa pun. Ia sendirian di kota asing dengan rasa takut yang dingin menempel di tulang belakangnya. Untuk pertama kalinya, ia hampir menyerah pada mimpinya sendiri.

Di titik itu hidup sering memberi dua pilihan, kembali pulang dengan selamat, atau tetap berjalan dengan hati yang gemetar. Santiago memilih berjalan.

Sampai akhirnya Ia bekerja di toko kristal milik seorang pedagang tua di kota Tangier. Hari-harinya diisi debu, kaca, dan pelanggan yang datang dengan kehausan. Namun di sana ia belajar sesuatu yang lebih halus daripada perdagangan, bahwa dunia berubah bagi orang yang berani memimpikan perubahan.

Dengan ide-idenya, toko itu perlahan hidup kembali. Kristal yang dulu hanya berdebu kini berkilau di bawah cahaya matahari. Pedagang tua itu terkejut melihat bagaimana satu mimpi bisa menular seperti api kecil. Setelah cukup uang terkumpul, perjalanannya berlanjut. Gurun yang menunggu kembali menyambutnya.

Bentangan pasir itu seperti lautan luas. Siang hari menyala seperti tungku raksasa. Malam hari membeku seperti kesunyian. Di sana Santiago bertemu para kafilah, mendengar cerita perang suku, dan belajar membaca bahasa yang tidak ditulis dengan huruf, yaitu bahasa tanda dengan memperhatikan angin, jejak kaki, dan kebisuan malam.

Di tengah gurun itulah ia bertemu seorang alkemis. Sosok itu bukan sekadar orang tua bijak. Ia seperti cermin bagi jiwa yang sedang mencari dirinya sendiri. Dari alkemis itu Santiago belajar bahwa dunia memiliki satu bahasa yang sama untuk semua makhluk, yaitu bahasa hati.

Hati yang jujur selalu tahu arah, bahkan ketika kepala dipenuhi keraguan. Mereka menunggang kuda melintasi gurun. Kadang tanpa kata. Kadang dengan percakapan yang terasa seperti membuka rahasia alam semesta. Sang alkemis berkata bahwa ketika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta diam-diam membantu mewujudkannya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi gurun membuatnya terasa seperti masuk oase.

Perjalanan mereka akhirnya membawa Santiago sampai ke piramida. Struktur batu raksasa itu berdiri seperti penjaga waktu. Ribuan tahun sejarah berdiam di sana, menyaksikan manusia datang dengan harapan dan pergi dengan cerita.
Santiago menggali pasir dengan tangan gemetar. Ia yakin harta karunnya ada di sana.

Namun hidup memiliki selera humor yang aneh. Ia dirampok oleh sekelompok perampok yang menertawakan usahanya menggali mimpi. Salah satu dari mereka bahkan bercerita bahwa ia sendiri pernah bermimpi tentang harta karun di Spanyol, tepatnya di bawah pohon sycamore yang tumbuh di reruntuhan gereja tua tempat seorang gembala biasa tidur bersama domba-dombanya.

Tempat Santiago memulai semuanya.

Saat itulah kesadaran datang seperti kilat. Kadang kita harus berjalan ribuan kilometer hanya untuk memahami halaman pertama kehidupan kita sendiri. Kadang harta yang paling berharga memang berada di tempat kita berasal, tetapi kita belum cukup dewasa untuk mengenalinya sebelum menempuh perjalanan panjang.

Santiago kembali. Ia kembali bukan sebagai gembala yang sama, tetapi sebagai manusia yang telah disentuh oleh gurun, mimpi, kehilangan, dan harapan. Di bawah pohon tua itu, ia menggali tanah yang dulu ia jadikan tempat tidur. Dan benar saja harta itu ada di sana. Peti emas, permata, dan koin-koin yang berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Namun yang paling berharga bukanlah harta karunnya. Yang paling berharga adalah perjalanan yang mengajarinya bahwa hidup tidak sekadar tentang menemukan harta, tetapi tentang menjadi seseorang yang layak menemukannya.
Dan sering kali, untuk mengenali keajaiban yang ada dalam diri kita sendiri, kita harus terlebih dahulu tersesat jauh ke ujung dunia. (*)