Mengenang Abdul Mukti Keliobas (Bupati Seram Bagian Timur 2015-2024)

4,582

Oleh: Saidin Ernas | Dosen dan Peneliti Sosial Politik di UIN A.M. Sangadji Ambon

Tidak semua pemimpin dikenang melalui deretan angka, grafik pertumbuhan ekonomi, atau laporan kinerja yang gemerlap di atas kertas. Sebagian pemimpin justru hidup lebih lama dalam ingatan rakyat karena sesuatu yang jauh lebih sunyi namun mendalam, yakni “hati” yang baik.  Mukti Keliobas adalah salah satu dari sedikit pemimpin yang dikenang karena alasan itu.

Bagi sebagian kalangan, ia mungkin bukan kepala daerah dengan capaian pembangunan paling spektakuler. Namun bagi mayoritas rakyat di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Mukti Keliobas adalah pemimpin dengan hati terbaik; pemurah, mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain, dan nyaris tak pernah tega membiarkan kolega maupun rakyatnya menghadapi kesulitan seorang diri.

Abdul Mukti Keliobas (Bupati Kab. Seram Bagian Timur 2015-2020/2020-2024) dinyatakan wafat pada 18 Desember 2025 di RS Leimena Ambon pada usia 57 tahun, menuntaskan perjalanan hidup seorang pemimpin yang sepanjang hayatnya lebih memilih memberi daripada mengumpulkan, lebih gemar berbagi daripada menumpuk, dan menjadikan kemanusiaan sebagai fondasi utama kepemimpinannya. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga menghadirkan ruang sunyi bagi rakyat Seram Bagian Timur yang pernah merasakan sentuhan langsung dari kebaikan dan kepeduliannya. 

Paradoks Politik yang Mengungkap Karakter

Pada tahun 2020, menjelang Pilkada Seram Bagian Timur, seorang kolega dari lembaga survei politik nasional menghubungi saya dengan nada heran. Ia menyampaikan hasil survei yang, menurut ukuran akademik, terasa “tidak lazim”. Tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Bupati Mukti tercatat relatif rendah, terutama dalam aspek ekonomi dan tata kelola pemerintahan. Namun pada saat yang sama, angka elektabilitasnya justru melambung tinggi, jauh melampaui para penantangnya. Sebagai peneliti politik, saya memahami keganjilan data itu dan bisa menjelaskannya melalui berbagai teori perilaku pemilih.

Namun sebagai seseorang yang berasal dari kampung yang sama dengan Mukti Keliobas di Pulau Manwoka sana, saya justru tidak terkejut. Bagi banyak warga, pilihan politik bukan semata soal kepuasan rasional atas kebijakan atau pembangunan. Rakyat mungkin mengeluh, kecewa, bahkan mengkritik kepemimpinannya dengan keras, tetapi mereka tidak sampai hati untuk tidak memilihnya. Ada ikatan emosional, rasa kedekatan, dan kepercayaan personal yang jauh melampaui angka-angka survei.

Dan sejarah kemudian membuktikan hal itu, ketika Mukti Keliobas kembali terpilih sebagai Bupati Seram Bagian Timur bersama wakilnya Idris Rumalutur, untuk periode kedua (2020–2024). Kemenangan tersebut bukan semata hasil mesin politik atau strategi elektoral, melainkan cerminan dari legitimasi sosial yang tumbuh dari karakter dan kebaikan pribadi. Dalam politik lokal, Mukti Keliobas menunjukkan bahwa kepercayaan rakyat tidak selalu dibangun dari keberhasilan teknokratis, tetapi sering kali berakar pada hubungan kemanusiaan yang tulus.

Pemimpin yang Tidak Menumpuk

Legitimasi politik Mukti Keliobas tidak semata-mata lahir dari status formal atau jabatan yang disandangnya. Memang benar, secara tradisional ia adalah Raja Negeri Amarsekaru, sebuah posisi simbolik yang penting dalam struktur sosial Maluku. Namun daya ikat kepemimpinannya tidak berhenti pada gelar adat itu. Legitimasi sejatinya tumbuh dari kebaikan yang dijalani secara konsisten, dari laku hidup sehari-hari yang dirasakan langsung oleh rakyatnya, jauh sebelum dan jauh sesudah ia memegang kekuasaan.

Ia dikenal ringan tangan, bukan hanya kepada para pendukung setianya, tetapi juga kepada rival politik yang pernah memusuhinya. Dalam dunia politik yang kerap keras, penuh hitung-hitungan, dan tidak jarang diliputi dendam, Mukti Keliobas memilih jalan yang jarang dilalui, yakni mengasihi. Buat orang seperti Mukti, berbagi bukanlah strategi pencitraan, apalagi instrumen elektoral. Itu adalah kebiasaan hidup, refleksi dari keyakinan batin bahwa memberi adalah cara paling manusiawi untuk memimpin.

Ironisnya, di tengah jabatan dan kewenangan yang dimilikinya, Mukti Keliobas tidak pernah benar-benar memiliki rumah pribadi. Hingga akhir hayatnya, ia berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya. Ia tidak meninggalkan tabungan miliaran rupiah, tidak pula mewariskan kemewahan untuk hari tua. Dalam logika politik modern, kisah semacam ini nyaris terdengar tidak masuk akal.

Namun justru di situlah letak keistimewaannya,  Mukti bukan pemimpin yang menumpuk kekayaan, melainkan pemimpin yang mengalirkan apa yang ia miliki kepada orang lain, dan karena itu ia tetap hidup dalam ingatan rakyatnya. 

Kepemimpinan Simbolik yang Kuat

Sosiolog Max Weber (1968) pernah menyebut figur seperti Mukti Keliobas sebagai pribadi dengan otoritas karismatik dan kepemimpinan simbolik. Legitimasi mereka tidak sepenuhnya bertumpu pada rasionalitas birokrasi atau capaian teknokratis, melainkan pada kepercayaan, kedekatan emosional, dan makna simbolik yang hidup dalam imajinasi kolektif rakyat. Pemimpin semacam ini tetap dicintai meskipun tidak sempurna. Bahkan, justru karena ketidaksempurnaannya itu, mereka hadir sebagai sosok yang terasa dekat dan manusiawi.

Hari ini, Seram Bagian Timur kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maluku pun kehilangan seorang pemimpin yang hangat di tengah kerasnya politik lokal. Dan kita semua kehilangan sebuah teladan tentang bagaimana kekuasaan dapat dijalankan dengan kebaikan hati. Mukti Keliobas mungkin tidak meninggalkan istana atau kemewahan, tetapi ia meninggalkan jejak kebaikan yang jauh lebih sulit runtuh oleh waktu dan perubahan.

Di dunia yang semakin menilai pemimpin melalui angka, indikator, dan laporan kinerja, kepergian Mukti Keliobas mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendasar. Bahwa pada akhirnya, yang paling lama dikenang rakyat bukanlah seberapa besar kuasa yang pernah digenggam seorang pemimpin, melainkan seberapa besar hatinya untuk sesama. Selamat jalan, Bupati Mukti. Semoga setiap kebaikanmu dibalas oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Penyayang, dengan balasan yang terbaik. Amien…!