-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026






Oleh : Rian Malawat (Beta Sander)
Sebuah jabat tangan yang bersejarah dalam dunia sains dan teknologi atau sekadar melakukan “High-Five” dilakukan oleh Jesse Sullivan dan Claudia Mitchell pada konferensi pers yang diselenggarakan oleh Rehabilitation Institute of Chicago (RIC) pada tahun 2006. Yang menjadikan peristiwa ini menyejarah tentu bukan gerakannya atau tangan kiri yang dipakai melainkan kedua tangan yang bersentuhan itu merupakan tangan bionik, mudah saja mencari gambarnya di internet, mereka seolah mendemonstrasikan betapa responsif dan presisi tangan-tangan bionik itu dikendalikan oleh pikiran.
Hampir dua dekade setelah peristiwa itu, pada awal 2024 lalu lewat Neuralink, Elon Musk berhasil menanam chip di otak manusia untuk pertama kalinya. Adalah Noland Arbaugh sebagai pasien pertama yang menerima implan tersebut, dengan ini pria yang mengalami kelumpuhan otak mampu menggerakan tetikus komputer (mouse) menggunakan pikirannya. Dua peristiwa itu, meski terpisah waktu hampir dua dekade, namun yang perlu dicatat adalah bahwa keduanya meurpakan penanda dari sebuah pergeseran besar, manusia tidak lagi sekadar menggunakan teknologi. Manusia mulai menjadi teknologi.
Pada definisinya Organisme Sibernetik atau lebih dikenal dengan Siborg (Cyborg) adalah makhluk-makhluk yang memadukan bagian-bagian organik dan anorganik, misalnya manusia dengan tangan bionik.
Dalam satu pengertian, nyaris kita semua saat ini adalah bionik sebab indra-indra dan fungsi-fungsi alami kita telah digantikan oleh alat-alat seperti kacamata, alat pacu jantung, ortotik, bahkan komputer dan telepon genggam (yang membebaskan otak kita dari sejumlah beban penyimpanan dan pengolahan data). Dewasa ini manusia semakin tidak berjarak dengan implant hingga Brain Computer Interface (BCI).
Yang disebutkan terakhir ini merupakan teknologi terbaru yang menciptakan jalur komunikasi antara otak dan perangkat eksternal, pada masa depan yang adalah hari ini kita bisa membayangkan bagaimana jika sambungan yang semisal itu memungkinkan penautan otak dengan internet secara langsung atau menautkan beberapa otak secara langsung semisal inter-brain-net?
Masalah Ontologis
Secara ontologis baik filsafat maupun agama, manusia dipahami sebagai kesatuan tubuh dan jiwa yang tereduksi apalagi pada mekanisme material semata. Plato memisahkan jiwa dari tubuh, Descartes membangun dikotomi res cogitans dan res extensa, sementara tradisi agama dari Islam, Kristen, hingga Hindu secara konsisten menempatkan kesadaran spiritual sebagai inti dari kemanusiaan.
Kehadiran siborg menantang pemahaman kalsik atau setidaknya pemahaman dominan selama ini tentang manusia, ketika fungsi-fungsi koginitif, motorik, bahkan afektif telah bisa dimediasi atau ditingkatkan oleh mesin, batas antara manusia dan teknologi semakin kabur.
Pertanyaan yang hadir kemudian tidak lagi sekadar “apa yang bisa dilakukan dengan teknologi?” melainkan mesti bergeser menjadi “apakah manusia masih sepenuhnya manusia ketika separuh eksistensinya dimanipulasi oleh sistem yang non-organik? Di mana letak “Jiwa” yang selama ini menjadi dasar martabat manusia?”. Dalam konteks semisal ini, siborg bukan lagi sebuah objek teknologi, melainkan juga subjek filosofis yang memastikan proyek redefenisi hakikat manusia itu sendiri.
Teknologi siborg alih-alih menjadi alat bantu yang terjadi sekarang justru telah memberi perubahan kepada cara manusia “menjadi manusia”. Ketika tubuh manusia telah tidak sepenuhnya lagi biologis, kesadaran manusia telah dibantu atau bahkan ditingkatkan oleh mesin maka kita perlu membicarakan kembali apa itu manusia, apa lagi uniknya jiwa manusia bilamana kesadaran bisa disimulasikan atau bahkan dimanipulasi?
Apakah kesadaran juga relasi dengan Tuhan yang adalah hasil bantu dari pemograman yang disuntikkan ke pikiran melalui chip yang ditanam ke dalam kepala masih sejati? Tidak jarang iman mengambil ruang pada keterbatasan manusia, sedangkan kini teknologi sedang dalam jalan melampaui keterbatasan itu, apakah di masa depan pemuka agama perlu mengangkat batas keterbatasan yang semula dibuatnya sendiri demi kelangsungan agama, yang berarti tidak konsisten bahkan mendustai dalil-dalil awalnya sendiri. Lewat teknologi semisal BCI kita dimungkinkan kalau tidak mengurangi bahkan menghentikanpe penderitaan, jika saatnya tiba penderitaan bisa. dihapus apa lagi makna dari pengorbanan sebagai ujian bagi iman?
Siborg dan Pergeseran Masalah Iman
Rasa-rasanya kita terlambat dan percuma membicarakan akar masalah semua ini, apakah karena sains lepas dari agama juga filsafat sehingga hilang kesempatannya untuk memasukan moralitas atau semacamnya. Belum lagi dalam kerangka filsafat teknologi modern memaksa segalanya sebagai kerangka “penyedia” atau apa yang oleh Heidegger disebut sebagai Bestand. Dalam penjelasannya alam, semisal sungai, tanah, hingga pohon dibingkai untuk menjadi penyedia energi. Jadi sungai misalnya tidak dilihat lagi sebagai dirinya semula, sungai, melainkan sumber tenaga hidroelektrik yang mesti diatur dan dimanfaakan begitu juga tanah hingga udara bahkan manusia itu sendiri mejadi sumber daya.
Apalagi mengingat kerja-kerja sains semisal ini juga sering kali ditentukan oleh bukan para saintis, Elon Musk adalah CEO Neurolink bukan Thomas Alva Edison baru. Apa yang bisa kita lakukan sekarang, hadapi! Sejak Marshall McLuhan bicara tentang global village dalam bukunya Understanding Media hingga Yuval Noah Harari bernubuat tentang teknologi di masa depan dalam Homo Deus, bahwa seluruh kemajuan ini akan mengantarkan manusia kepada sebuah singularitas baru. Artinya dengan keberadaan fenomena yang sama sekali baru seperti ini, manusia, kesadaran, jiwa, moral, iman perlu dibicarakan ulang, kalau tidak agama akan ditinggalkan dan tidak sama sekali penting. Alasannya karena selama ini yang memberikan dasar kepada bahasan-bahasan semisal itu selain filsafat, agama.
Di lain sisi, dalam kerangka yang lebih Foucaauldian, siborg antara lain berpotensi melahirkan bentuk paling baru dari bio-politik, yakni untuk tidak menyebut pengendalian pengelolaan kehidupan manusia melalui intervensi teknologi pada level biologis dan kognitif, dan tidak perlu panjang lebar mengurai implikasinya lagi sebab dengan teknologi internet selama ini saja telah jauh eksploitasi dilakukan. Jika pada tatanan negara, mengatur manusia lewat hukum, kedisiplinan dan norma sosial, maka pada era siborg pengaturan itu bisa langsung melalui tubuh dan saraf manusia. Kesadaran manusia kini tidak lagi hanya dibangun oleh pendidikan, budaya dan agama melainkan juga oleh algoritma, dan desain teknologi. Terakhir yang perlu ditanyakan berkali-kali adalah siapa pemegang data, algoritma dan yang mendesain teknologi ini semua dan untuk apa, apakah semata-mata untuk sains atau bahkan untuk kemanusiaan.
Agama di Tengah Singularitas Paradigma
Dalam bukunya The Structur of Scientific Revolutions (1962), Thomas Kuhn menjelaskan perubahan paradigma terutama dalam sains tidak terjadi secara akumulatif atau bertahap melainkan dengan cara revolusi ilmiah yang disebutnya sebagai pergeseran paradigma (paradigm shift). Paradigma berjalan sebagai sains normal (normal science) kemudian bertemu anomali dan krisis (anomaly of science) dimana pada tahap ini, terdapat fenomena atau fakta yang tidak bisa dijelaskan lagi dengan menggunakan paradigma saat ini (anomali), sehingga yang terjadi kemudian adalah krisis (crisis of science).
Keadaan ini menuntut sebuah revolusi ilmiah demi mengatasi krisis dimaksud, selanjutnya paradigma hasil revolusi tadi menjadi sains normal dan seterusnya begitu. Persis, kita sekarang sementara berada pada tahap anomali dan krisis, sehingga dengan cara menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang disebutkan sebelumnya adalah upaya keluar dari krisis dan melakukan pergeseran paradigma.
Sebagai bantuan lain dalam melihat krisis semisal ini, kiranya diperlukan kerangka epistimologi yang holistik. Paradigma yang tidak reduktif dalam menawarkan cara pandang, yakni paradigma yang mengakomodir keseluruhan pendekatan dalam melihat subjek, fenomena atau dalam konteks ini krisis. Paradigma yang demikian itu, dipopulerkan oleh Amin Abdullah dengan istilah Integrasi-Interkoneksi, sebuah paradigma yang menyatukan ilmu agama (islam) dan ilmu umum (sains, sosial-humaniora) secara dialogis dan saling memperkuat. Paradigma ini memungkinkan interkomunikasi antara agama dengan ilmu, yang saling mengambil saling memberi, yang berarti juga terbuka dan tidak terjebak menggabungkan baik islamisasi maupun saintifikasi.
Semakin Menjadi Mesin, Semakin Mendesak Pertanyaan Manusiawi
Tulisan ini tidak bermaksud menempatkan agama sebagai oposisi biner terhadap teknologi pun sebaliknya memosisikan teknologi sebagai ancaman yang harus ditolak. Yang hendak menjadi sorotan utama adalah kecenderungan reduksionis teknologi yang berpotensi menggerus dimensi spiritual, kebebasan, hingga tanggungjawab manusia. Agama dalam konteks yang demikian itu tidak mesti dituntut untuk mengejar ketertinggalan teknologi melainkan mempertahankan dan mengaskan wilayah yang tidak digapai teknologi yakni makna, yang tidak mungkin direduksi algoritma dan atau pemograman.
Harusnya ditengah dunia yang makin hari makin sibernetik, agama bisa menjadi penjaga pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang makna, tujuan dan keberadaan manusia. Sebab semakin manusia menjadi mesin, semakin manusia dituntut untuk menjawab pertanyaan yang tidak bisa diprogram.
Pada konteks ini, kita lebih leluasa mengambil pendekatan dan menggunakannya sebagai pisau analisis. Lewat pendekatan filsafat, sains-teknologi dan spiritual-agama kiranya jawaban-jawaban bisa dimungkinkan untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Persis dengan itu, cita rasa spiritual yang ditawarkan agama dalam hemat kami tidak bisa tidak, hanya bisa ditempuh dari dan dengan jalan yang ditawarkan agama. Pemograman berbasis data yang berakar pada pengalaman manusia yang terbatas, sedangkan spiritualitas dalam agama pada tahapan tertentu mengkondisikan datangnya dari Tuhan. “We are not human beings having a spiritual experience; We are spiritual beings having a human experience”. Pierre Teilhard de Chardin. (*)