-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026





Oleh : Abdul Samad Serang | Sekretaris NU Kota Tual
Di Kepulauan Kei, konflik sosial bukan sekadar insiden tetapi ia telah menjadi pola yang berulang. Pertanyaannya bukan lagi mengapa bisa terjadi, tetapi mengapa selalu terulang.
Setiap kali konflik pecah, narasi yang muncul hampir selalu sama: kesalahpahaman, emosi sesaat, atau perkelahian individu. Namun, penjelasan itu terlalu dangkal. Di baliknya, tersimpan persoalan struktural yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Identitas di Kei adalah pedang bermata dua. Ikatan marga, agama, dan ohoi memang memperkuat solidaritas, tetapi juga menciptakan garis batas yang tegas. Ketika satu orang tersinggung, satu kampung bisa merasa terhina. Konflik pun membesar dengan cepat, seolah hanya menunggu percikan kecil untuk menyulut api lama.
Bayang-bayang Konflik Maluku 1999 masih belum benar-benar hilang. Trauma kolektif itu tidak pernah dipulihkan secara tuntas. Ia hidup dalam ingatan, dalam cerita-cerita yang diwariskan, dan dalam kecurigaan yang diam-diam dipelihara. Di tengah kondisi seperti ini, rumor lebih dipercaya daripada klarifikasi.
Masalah ekonomi memperparah keadaan. Di wilayah yang kaya sumber daya laut, ironisnya banyak masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ketimpangan akses, terbatasnya lapangan kerja, dan persaingan dalam sektor perikanan menciptakan tekanan sosial yang tinggi. Dalam situasi tertekan, konflik menjadi pelampiasan yang paling mudah.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah peran media sosial. Informasi yang belum tentu benar menyebar tanpa kendali. Provokasi dibungkus dalam pesan singkat, menyusup ke ruang-ruang privat masyarakat, lalu meledak di ruang publik. Dalam hitungan jam, situasi bisa berubah dari tenang menjadi mencekam.
Padahal, masyarakat Kei memiliki fondasi perdamaian yang kuat melalui hukum adat Larvul Ngabal. Nilai-nilai tentang penghormatan dan persaudaraan telah lama menjadi pegangan hidup. Namun hari ini, nilai itu seolah kalah oleh ego kelompok dan kepentingan sesaat. Adat masih dihormati, tetapi tidak selalu dijalankan.
Konflik di Kei bukan takdir. Ia adalah hasil dari pembiaran. Pembiaran terhadap ketimpangan, terhadap lemahnya pendidikan, terhadap absennya ruang dialog yang sehat. Selama akar masalah ini tidak disentuh, maka setiap perdamaian hanya akan bersifat sementara tenang di permukaan, rapuh di dalam.
Kei tidak kekurangan nilai untuk hidup damai. Yang kurang adalah keberanian untuk menegakkan nilai itu di tengah tekanan zaman.
Kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka kita tidak sedang menuju perdamaian tetapi kita sedang menunggu konflik berikutnya, dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sudah mulai menganggap itu normal. (*)
Sekretaris Nahdlatul Ulama Kota Tual. (A.Samad Serang)