-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026






Katamaluku.com–Ambon: Salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Ambon ditusuk OTK pada Jumat 27 Februari memicu gelombang desakan publik agar Polda Maluku segera melacak dan menangkap pelaku kriminal tersebut.
Peristiwa yang terjadi di lingkungan kampus tersebut dinilai bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan ancaman serius terhadap rasa aman dunia pendidikan.
Insiden tersebut bermula saat agenda Rapat Kerja Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis berlangsung, saat chaos antar dua kubu pendukung calon Ketua DPMF terjadi, aksi saling kejar tak terhindarkan. Informasi berkembang jika korban kemudian ditusuk pada bagian perut dan tulang belakang.
Setelah mengalami luka akibat tusukan benda tajam, korban kemudian dilarikan ke RSUP Leimena Ambon untuk mendapatkan penanganan medis serius.
Menanggapi aksi 'brutal' tersebut, Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejajaran Universitas Darussalam Ambon (Unidar) Ambon mengeluarkan ultimatum keras kepada Kepolisian agar segera mempercepat proses penangkapan pelaku penikaman H. Letsoin.
Handiwin Tuheitu, Ketua HMI Komisariat Fakultas Pertanian Unidar, menilai lambannya respons aparat berpotensi memperkeruh situasi sosial di kalangan mahasiswa.
"Keterlambatan aparat kepolisian dalam menangkap pelaku penikaman justru akan memperlebar masalah, memicu ketegangan antar kelompok yang bertikai, serta mengurangi kepercayaan publik terhadap aparat kepolisian. Kami mendesak agar ada keterangan resmi dari aparat kepolisan, terhitung sejak berita ini dirilis," jelas Handiwin melalui tilis yang diterima Redaksi Katamaluku.com Minggu, (1/1).
Senada dengan Tuheitu, Ketua Komisariat HMI Fakultas Tehnik Unudar, Ripal Pattimahu jua menanggali lambannya apara kepolisian melacak pelaku penikaman korban. Dia menegaskan, keterlambatan penangkapan dapat dimaknai sebagai pembiaran terhadap teror psikologis di lingkungan kampus.
"Kampus dan mahasiswa adalah simbol persemaian gagasan. Ketika seorang mahasiswa ditikam, yang terluka bukan hanya fisik korban, melainkan rasa aman seluruh civitas akademika. Polisi harus menyadari bahwa lambatnya penangkapan adalah pembiaran terhadap teror mental bagi dunia pendidikan," tegas Pattimahu
Intan Tomia turut menyoroti pentingnya transparansi dan percepatan penanganan perkara guna mencegah berkembangnya spekulasi di ruang publik.
"Kecepatan aparat adalah kunci untuk meredam potensi eskalasi massa. Kami mengimbau kepolisian untuk bekerja secara transparan dan berbasis data. Jangan biarkan asumsi liar berkembang di ruang publik karena ketiadaan progres yang nyata," ujar Ketua Komisariat Ekonomi Unidar tersebut.
Desakan kepada aparat kepolisian tersebut berkaitan dengan keamanan mahasiswa. Mereka menuntut agar penangkapan pelaku segera dilakukan secara cepat dan terbuka.
"Bahwa HMI Sejajaran Unidar Ambon menuntut tindakan nyata, bukan sekadar retorika prosedural. Kami berdiri pada prinsip bahwa keamanan mahasiswa adalah bagian dari ketahanan nasional. Oleh karena itu, penangkapan pelaku dalam waktu singkat adalah harga mati bagi profesionalisme Polri." tutup mereka.
Pernyataan terhadap Polisi agar mempercepat penangkapan pelaku dihadiri lima Ketua Umum Komisariat HMI di Unidar yakni; Fitrah Tanassy (Ketua Umum HMI FH), Sintia Sari (Ketua Umum HMK F-Isip), Ripal Pattimahu (Ketua Umum Komisariat F-Tekhin), Handiwin Tuheitu (Ketum F-Pertanian) dan Intan Tomia (Ketum F-Ekonomi). (KM-R4)
