-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026






Katamaluku.com–Langgur: Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, menegaskan pentingnya integrasi sektor pertanian dan pariwisata dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tiga kecamatan, Kei Kecil Timur (KKT), Kei Kecil Timur Selatan (KKTS), dan Manyeuw.
Dalam forum yang digelar bersama tersebut, Thaher menyatakan KKT dan KKTS merupakan lumbung pangan daerah, sementara Manyeuw adalah gerbang pariwisata Maluku Tenggara. ketiga kecamatan merupakan satu ekosistem pembangunan yang tak terpisahkan.
"Tantangan dan potensi kalian saling terhubung. Masa depan ketiga kecamatan ini akan lebih kuat jika dibangun bersama," ujar Bupati, Senin, (2/3)
Menurutnya, KKT dan KKTS menjadi benteng ketahanan pangan dengan produksi jagung, ubi kayu, dan kelapa yang menopang kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, Manyeuw menyimpan daya tarik wisata kelas dunia seperti Pantai Ngurbloat dengan pasir putihnya yang dikenal sebagai salah satu yang terhalus di Indonesia.
"Ketika wisatawan datang ke Ngurbloat, mereka membutuhkan pangan lokal. Dan pangan itu datang dari tanah-tanah di KKT dan KKTS. Inilah satu ekosistem pangan menyangga pariwisata, pariwisata mengangkat nilai pangan, ungkapny
Data Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menunjukkan kunjungan wisatawan meningkat signifikan, dari 18.264 orang pada 2020 menjadi 129.300 orang pada 2024. Rata-rata lama tinggal wisatawan pun dilaporkan ikut naik.
Hanubun menilai, tren tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis pangan lokal. Produk seperti keripik ubi, tepung jagung, hingga kuliner tradisional Kei yang dikemas modern dinilai berpotensi menjadi oleh-oleh khas destinasi.
"Tidak ada kecamatan yang miskin di Maluku Tenggara. Yang ada hanyalah potensi yang belum dikelola maksimal," tegasnya
Dirinya menyoroti, prestasi Desa Wisata Ohoi Ngilngof yang meraih penghargaan nasional dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai bukti bahwa potensi lokal mampu bersaing di tingkat nasional.
Di tengah optimisme tersebut, Thaher mengakui adanya tekanan fiskal serius akibat pemangkasan Dana Desa tahun 2026. Alokasi awal sebesar Rp121,6 miliar untuk 190 ohoi pada Oktober 2025 dipotong menjadi Rp52,1 miliar berdasarkan PMK Nomor 7 Tahun 2026 turun sekitar 58%.
Menurutnya Pemerintah daerah, akan berupaya menutup kekurangan melalui Alokasi Dana Ohoi dari APBD sebesar Rp38,2 miliar, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Rp2,8 miliar, serta BPJS perangkat ohoi Rp1,2 miliar. Total dana yang mengalir ke 192 ohoi tahun ini sekitar Rp 94,3 miliar.
"Kita semua tahu ini jauh dari cukup. Tetapi saya tidak datang membawa keputusasaan. Selama tangan petani masih mau bekerja dan wisatawan masih datang, kita tidak akan pernah benar-benar miskin,” ujarnya.
Menghadapi keterbatasan anggaran, Bupati meminta setiap ohoi menetapkan tiga hingga lima program prioritas yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Dia menekankan pembangunan jalan usaha tani, embung pertanian, gudang penyimpanan hasil panen, serta infrastruktur pendukung wisata seperti toilet bersih, dermaga kecil, dan penunjuk arah.
"Selain itu, penguatan terhadap Badan Usaha Milik Ohoi (BUMO) dan koperasi sebagai instrumen peningkatan nilai tambah hasil pertanian, sangat perlu di perhatikan," tuturnya
Program Vee Kesyang atau kebun bekal keluarga kembali ditekankan sebagai strategi ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
"Program ini lahir jauh sebelum istilah ketahanan pangan populer secara nasional. Pertama-tama untuk memastikan setiap keluarga punya cukup makan," katanya
Thaher juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas kecamatan. Petani di KKT dan KKTS didorong menjadi pemasok utama kebutuhan pangan sektor pariwisata di Manyeuw, sementara pelaku wisata memasarkan produk olahan lokal sebagai bagian dari paket destinasi.
Hanubun meminta, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, mulai dari petani yang memahami pengolahan hasil panen bernilai tambah, pemuda terlatih sebagai pemandu wisata profesional, hingga pelaku UMKM yang mampu mengemas produk sesuai standar pasar.
"Musrenbang yang bermakna bukan yang panjang daftarnya, tetapi yang tajam prioritasnya," ungkapnya
Diakhir sambutannya, Bupati mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan tradisi lokal, termasuk praktik sasi sebagai warisan leluhur Kei.
"Dana dipotong, tetapi tanah tidak pernah berhenti memberi. Selama Ve’e Kesyang ditanam di setiap ohoi dan wisatawan masih terpesona oleh pasir putih Manyeuw, Maluku Tenggara Hebat bukan sekadar ucapan," tutupnya. (KM-R4)
