Kandidat Ketua Umum HmI Cabang Ambon, Sahrul Solissa, M.H

HMI SOLID: Revitalisasi Untuk Kejayaan Baru

442

Oleh: Sahrul Solissa, M.H (Kandidat Ketua Umum HMI Cabang Ambon)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini berada di titik nadir yang penuh tanda tanya. Organisasi yang pernah menjadi garda terdepan dalam perjuangan intelektual dan sosial kini terkesan hanya berputar dalam ritual internal yang tak pernah selesai. Jika kita terus berpegang pada prestasi yang sudah usang, kita hanya akan menjadi organisasi yang tenggelam dalam nostalgia, sementara dunia terus bergerak maju. HMI Cabang Ambon, sebagai bagian dari organisasi besar ini, harus berani mengevaluasi dirinya dengan jujur. Apakah kita masih relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat?

HMI tidak bisa hanya berbangga dengan sejarah yang telah tercatat. Sejak didirikan oleh Prof. Dr. Lafran Pane pada tahun 1947, HMI telah menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin besar. Namun, realitas sekarang menunjukkan sebuah paradox yang menyakitkan. HMI semakin jauh dari tujuan utamanya. Seperti yang diungkapkan oleh Gramsci dalam Prison Notebooks, “Hegemoni tidak hanya dibangun oleh kekuatan politik, tetapi oleh ideologi yang mampu membentuk kesadaran kolektif.” Dalam hal ini, HMI harus kembali kepada esensinya sebagai wadah pemikiran dan perjuangan ideologis, bukan hanya sekadar tempat lobi politik atau pemenuhan ambisi pribadi.

Faksionalisme dalam tubuh HMI Ambon telah merusak energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk perjuangan bersama. Sering kali, kita lebih fokus pada perbedaan internal daripada bergerak bersama untuk mengatasi masalah sosial yang nyata di Maluku dan Indonesia. Konflik internal ini, seperti yang dikatakan Weber (1919) dalam Politics as a Vocation, justru merugikan organisasi. HMI Cabang Ambon harus menanggalkan ego sektoral yang menghambat kerja kolektif. Kita tidak bisa berharap banyak jika kader HMI lebih terlibat dalam persaingan internal daripada berfokus pada tugas mulia untuk membangun bangsa melalui pemikiran kritis dan aksi nyata.

Selain itu, kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa HMI Cabang Ambon semakin terpinggirkan dari percakapan besar tentang perubahan sosial. Di tengah kemajuan teknologi dan digitalisasi yang pesat, HMI harus belajar untuk tidak sekadar mengikuti, tetapi menjadi pelopor dalam literasi digital. Sebagaimana diungkapkan oleh Zuboff (2019) dalam The Age of Surveillance Capitalism, “Kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan data adalah sumber daya yang menentukan masa depan organisasi.” Kita tidak bisa hanya berbicara tentang keislaman atau kebangsaan tanpa memahami bagaimana dunia digital dan data dapat membentuk ulang kehidupan sosial.

Kader HMI Cabang Ambon harus dibekali dengan keterampilan digital yang memadai agar mereka mampu berkompetisi di dunia yang serba terhubung ini, namun tetap berpijak pada prinsip-prinsip moral yang kuat.
Satu hal yang tidak kalah penting adalah kemandirian finansial HMI. Tanpa kemandirian, kita akan terus terjebak dalam siklus ketergantungan pada pihak luar yang dapat memengaruhi objektivitas dan keberlanjutan organisasi.

Menurut Drucker (1985) dalam Innovation and Entrepreneurship, “Inovasi adalah kunci untuk membangun kemandirian yang berkelanjutan.” HMI Cabang Ambon harus membangun sistem pendanaan yang mandiri melalui kerjasama dengan berbagai lembaga sosial dan pendidikan, serta menciptakan sumber daya yang dapat mendukung kegiatan organisasi tanpa mengorbankan independensinya. Kemandirian ini akan memastikan bahwa HMI tetap berdiri tegak, tidak terpengaruh oleh kepentingan politik atau ekonomi yang dapat merusak kredibilitas kita.

Kemandirian intelektual adalah hal yang tak kalah penting. HMI harus kembali menjadi pusat pengembangan intelektual yang menghasilkan pemikiran kritis dan solusi atas masalah sosial yang ada. Sebagaimana Anderson (1983) dalam Imagined Communities menulis, “Nasionalisme lahir dari imajinasi kolektif yang menghubungkan individu dalam identitas bersama.” HMI Cabang Ambon harus membangun solidaritas di antara kadernya, tanpa membedakan latar belakang daerah atau asal usulnya. Sebuah organisasi yang besar adalah organisasi yang dapat menyatukan pemikiran dan tujuan dalam semangat yang sama. Tidak ada tempat untuk ego sektoral di tengah perjuangan besar yang kita hadapi.

HMI Cabang Ambon harus memahami bahwa soliditas yang dimaksud bukan hanya soal kesatuan struktural, tetapi lebih penting lagi, soal kesatuan ideologi dan tujuan. Soliditas yang sejati terletak pada kemampuan untuk menyatukan seluruh potensi kader dalam satu visi yang jelas. Seperti yang disampaikan oleh Weber (1919), politik sejati adalah tentang pengabdian kepada masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri. HMI Cabang Ambon harus mengedepankan pengabdian ini dengan mewujudkan organisasi yang lebih inklusif, terlibat aktif dalam perubahan sosial, dan berani mengangkat isu-isu kritis yang selama ini.

Diabaikan.

Soliditas ideologi adalah landasan bagi keberlanjutan organisasi ini. HMI tidak boleh hanya bertahan dengan “pencitraan” atau kenangan masa lalu yang telah usang. Untuk bertahan dan relevan, HMI harus bertransformasi. Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil, bukan pada status atau jabatan, adalah kepemimpinan yang dibutuhkan di masa depan. HMI harus membangun kembali jembatan persatuan antara kader-kadernya, yang pada gilirannya akan membentuk kekuatan yang tak terbendung. Jika kita bisa solid dalam ideologi dan aksi, tidak ada kekuatan manapun yang mampu menggoyahkan kita.

Sebagai penutup, saya tidak menawarkan posisi atau janji politik. Saya hanya menawarkan satu visi yang jelas: HMI harus kembali menjadi organisasi yang solid, mandiri, dan relevan dengan tantangan zaman. Mari kita bersama membangun HMI yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih berpengaruh. Dengan soliditas yang sesungguhnya, HMI Cabang Ambon akan dapat kembali memimpin dalam perubahan sosial. (*)