Gubernur Hendrik Leweriss dan Rovik A Afifudin duet dalam diskusi Publik Moderasi umat beragama.

Hadiri Dialog Moderasi Beragama, Gubernur Hendrik Bicara Kemajemukan dan Orang Basudara

58

Katamaluku.com–Ambon: Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gema Mathla’ul Anwar Maluku bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gema Mathla’ul Anwar Kota Ambon menggelar Dialog Publik yang dirangkaikan dengan Buka Puasa Bersama di Baileo Caffe, Ambon. 

Kegiatan ini mengusung tema "Moderasi Beragama sebagai Fondasi Harmoni Antar Umat Beragama di Maluku" sebagai komitmen memperkuat toleransi di tengah masyarakat majemuk, Jumat (27/02) 

Kegiatan tersebut menghadirkan unsur pemerintah daerah, akademisi, dan legislatif. Dialog difokuskan pada penguatan nilai moderasi beragama sebagai strategi menjaga stabilitas sosial dan mencegah potensi konflik di Maluku.

Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menyampaikan apresiasi atas inisiatif panitia dan pengurus Gema Mathla’ul Anwar dalam menjalankan kegiatan tersebut

"Moderasi kehidupan beragama di Maluku, saya mengapresiasi betul Panitia, dan teman-teman pengurus DPW GEMA Matha'ul Anwar Maluku dan DPD GEMA Matha'ul Anwar Kota Ambon," apresiasi Gubernur kepada media. 

Lewerissa mengaku, tema kegiatan diskusi publik GEMA MA sangat kontekstual dan relevan.

"Karena mereka memilih tema yang sangat relevan dan bermanfaat untuk Maluku. Kita punya tanggung jawab untuk mendorong kegiatan-kegiatan yang bertujuan mempromosikan kehidupan orang bersaudara, perdamaian, kemajemukan, kemoderasian," akui Gubernur.

Dirinya menegaskan, moderasi beragama tidak boleh dimaknai sebagai upaya memoderasi ajaran agama.

"Moderasi beragama itu, jangan sampai di salah tafsirkan intinya bagaimana relasi kita dengan agama, selaku Gubernur saya Apresiasi dan saya Bangga terhadap teman-teman terima kasih Matha'ul Anwar," jelasnya

Sementara itu, Ketua DPW GEMA MA Maluku, Bansa Hadi Sella, menegaskan bahwa dialog ini bukan kegiatan seremonial semata, melainkan langkah awal dari agenda berkelanjutan membangun kesadaran kolektif tentang moderasi beragama.

"Terkait kegiatan dalam jangka waktu ke depan, tentunya ada, karena ini bukan akhir dari membangun kesadaran tentang makna mederasi. Bagaimana menjaga kekerabaan persaudaraan sesama umat beragama di Maluku," ujarnya

Menurut Sella, keyakinan merupakan ranah personal, namun penghormatan terhadap sesama adalah fondasi hidup bersama. 

"Kami akan terus berikhtiar untuk melakukan upaya-upaya penyadaran sehingga masyarakat terutama kalangan muda di Maluku itu bisa menyadari bahwa persoalan keyakinan itu nafsi-nafsi tapi bagaimana saling menghargai sesama orang beragama itu menjadi penting tujuannya apa biar jangan ada turbolensi di kemudian hari," jelasnya

Sella menegaskan, ke depan, pihaknya berencana menggelar forum lintas iman dengan melibatkan organisasi kepemudaan berbagai agama dan komunitas masyarakat sipil guna memperluas ruang perjumpaan.

"Kedepan kita akan membuat kegiatan dengan mengundang generasi mudah Maluku lintas iman, baik OKP dari Kristen, Islam, Hindu, Budha dan pemuda lainnya, seperti LSM kita akan undang,untuk semua orang menyadari bahwa hidup bersama itu penting," tuturnya

Sella juga menyoroti tantangan era digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan penyebaran informasi manipulatif.

"Ruang Digital ini akan kita manfaatkan, dengan baik perihal kecanggian informasi itu membutuhkan langkah-langkah strategis untuk memferivikasi informasi. Sebab di era Artificial Intelligence (AI) apa saja bisa di buat," ungkapnya

Dirinya berharap generasi Muda Maluku untuk tetap menjaga semangat pela gandong sebagai Lokal Wisdom 

"Harapannya ke depan buat generasi muda Maluku untuk tetap menjaga hubungan yang sudah ada dengan semangat pela gandong sebagai Lokal Wisdom kita," harapnya

Akademisi UIN Ambon M. Asrul Pattimahu menilai,  masyarakat majemuk memiliki potensi konflik jika minim interaksi. Pemerintah, kata dia, perlu menciptakan ruang-ruang perjumpaan sosial untuk mengurangi kecurigaan antar kelompok.

"Masyarakat yang beragam itu, masyarakat yang kita tau punya potensi konflik itu harus di kelolah oleh pemerintah, misalnya orang yang jarang berjumpa itu akan saling curiga dan orang yang saling curiga itu akan menimbulkan potensi konflik," tuturnya

Ia mencontohkan pengembangan ruang baca atau perpustakaan terbuka sebagai model interaksi sosial yang inklusif.

"Satu hal yang bisa di fasilitasi oleh pemerintah itu menciptakan sebanyak mungkin ruang-ruang perjumpaan dengan cara pemerintah merekayasa titik-titik pertemuan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang. Dengan cara menciptakan ruang baca terbuka atau perpustakaan terbuka," katanya

Pattimahu menegaskan semua elemen masyarakat punya tanggung jawab untuk merawat keberagaman antara kita semua

"Saya selaku akademis sering menggiring mahasiswa saya untuk berjumpa dengan komunitas-komunitas tertentu yang dimana itu tujuannya untuk mengurangi konflik, dan semua elemen masyarakat punya tanggung jawab untuk merawat keberagaman antara kita semua," Ungkapnya

Anggota DPRD Maluku, Rovik Akbar Afifudin, menyebut moderasi beragama sebagai jalan tengah menjaga harmonisasi sosial di tengah dinamika keberagaman.

"Moderasi beragama ini sebenarnya, jalan tengah untuk menjaga harmonisasi terkait dengan pikiran-pikiran kita soal beragama," jelasnya

Politisi PPP menilai, agama itu kan mengajarkan kita hidup bersaudara, saling tolong menolong itu yang mestinya lebih banyak di tunjukan sebagai modal kita dalam membagun keharmonisan antar umat beragama

"Di dalam agama itu kan mengajarkan kita, kasih sayang, hidup bersaudara, saling tolong menolong itu yang mestinya lebih banyak di tunjukan sebagai modal kita dalam membagun keharmonisan antar umat beragama," ungkapnya

Ia menambahkan, nilai kasih sayang dan persaudaraan yang diajarkan agama harus menjadi modal utama membangun masa depan Maluku yang lebih harmonis.

"Jadi moderasi beragama di Maluku sangatlah penting untuk kita melihat masa depan kita, lebih harmoni dengan membuka ruang-ruang perjumpaan," tutupnya.

Hadir dalam dialog tersebut, Rovik A Afifudin, Anggota DPRD Maluku dan Rully A Pattimahu dari UIN AMSA

Dialog kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Momentum tersebut diharapkan memperkuat silaturahmi sekaligus menegaskan komitmen kolektif menjaga Maluku tetap damai, harmonis, dan berkeadaban di tengah tantangan era digital dan arus informasi yang kian kompleks. (KM-R4)