-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026

Oleh : Risno Ibrahim I Anak Muda Maluku
SETIAP kali Piala Dunia berlangsung, Maluku berubah secara nyata. Di kampung-kampung, orang rela begadang hingga subuh demi menonton pertandingan. Pangkalan ojek penuh, televisi menjadi pusat keramaian, dan anak muda bersama orang tua larut dalam pertandingan ribuan kilometer dari tanah mereka. Ketika tim favorit menang, sorak-sorai menggema, namun ketika kalah, kesedihan terasa mendalam. Fenomena ini lebih dari sekadar kecintaan biasa terhadap sepak bola, sebab ada sesuatu yang lebih kompleks sedang bekerja.
“Orang-orang ingin menang” adalah untaian kalimat sederhana yang sebenarnya menyimpan kenyataan sosial yang sangat kompleks. Bagi masyarakat di Indonesia Timur seperti Maluku, kemenangan bukanlah pengalaman sehari-hari, melainkan aspek langka yang jarang sekali diraih. Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan di Maluku bertengger di angka 15,38%, jauh melampaui rata-rata nasional yang sebesar 8,47%. Tekanan ini kian diperparah oleh tingkat pengangguran terbuka usia muda (15-24 tahun) yang menyentuh angka 19% (BPS 2025). Akibat keterbatasan lapangan kerja, ketimpangan infrastruktur kesehatan, serta minimnya akses pendidikan berkualitas, survei migrasi tahunan mencatat ribuan pemuda Maluku terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka setiap tahunnya. Dalam jeratan restriksi struktural inilah, sebuah kemenangan menjelma sebagai aspirasi yang lebih sering diimpikan ketimbang diraih secara nyata.
Dalam keadaan seperti itu, kemenangan berubah menjadi pengalaman yang sangat langka. Ketika Argentina menang, sebagian orang ikut merasakan kemenangan itu sebagai milik mereka sendiri. Ketika Belanda melaju ke babak berikutnya atau tim favorit mengangkat trofi, ada luapan emosi yang seolah menghapus berbagai kekalahan sehari-hari. Euforia ini bukan soal sepak bola semata melainkan tentang kebutuhan manusia akan harapan. Momen ini menunjukkan seberapa haus masyarakat akan kesempatan merasakan keberhasilan.
Teori sosial kontemporer menjelaskan fenomena ini melalui konsep “palliative society” (Han, 2022). Masyarakat modern hidup dalam berbagai bentuk rasa sakit sosial yang tersembunyi, dari ketidakpastian ekonomi hingga perasaan ketidakberdayaan kolektif. Respons manusia terhadap kondisi ini adalah secara aktif mencari mekanisme penghiburan yang membuat rasa sakit lebih mudah ditanggung. Sepak bola, khususnya turnamen internasional seperti Piala Dunia, menjadi salah satu mekanisme paling efektif dalam hal ini. Spektakel olahraga memungkinkan pemirsa meminjam kemenangan yang tidak mereka peroleh dalam kehidupan nyata, menciptakan pengalaman psikologis keberhasilan walaupun sementara. Penelitian tentang sports escapism menunjukkan fenomena ini bukan kelemahan individu melainkan respons rasional terhadap struktur sosial yang memberikan sedikit pengalaman kesuksesan nyata (Wohlers & Dionigi, 2015).
Saya tidak melihat euforia Piala Dunia sebagai masalah utama yang perlu dikritik. Masalah sesungguhnya adalah mengapa masyarakat lebih mudah menemukan alasan menang melalui Argentina atau Belanda daripada melalui pembangunan di daerah mereka sendiri. Kemenangan terasa lebih dekat di stadion Amerika, Eropa, atau Qatar daripada di desa-desa Maluku karena struktur sosial yang tidak menghadirkan peluang sukses lokal. Pertanyaan mendesak ini tidak boleh ditujukan kepada rakyat yang menonton tetapi kepada para pemangku kepentingan yang membuat kebijakan. Tanggung jawab mereka adalah memastikan bahwa kemenangan bukan hanya pengalaman yang bisa dipinjam dari sepak bola.
Rakyat terlalu sering dijadikan sasaran kritik karena dianggap larut dalam hiburan tanpa memikirkan persoalan nyata. Namun hiburan hanyalah gejala permukaan dari penyakit sosial yang lebih dalam. Akar masalahnya terletak pada kegagalan pemerintah menghadirkan kesejahteraan merata, pendidikan berkualitas, lapangan kerja, dan masa depan yang dapat dipercaya bagi masyarakat. Ketika negara gagal menyediakan pengalaman kesuksesan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, masyarakat secara wajar akan mencarinya di tempat lain. Fenomena ini bukan kelemahan moral rakyat melainkan indikator kegagalan kebijakan publik.
Mereka mencarinya di layar televisi ketika rumah mereka tidak memberikan harapan cukup. Mereka mencarinya dalam gol-gol yang dicetak oleh pemain asing yang tidak pernah mereka kenal secara pribadi. Mereka merasakan kepemilikan atas kemenangan orang lain sebagai kompensasi atas kekalahan pribadi mereka. Mereka mengibarkan bendera negara asing dengan kebanggaan yang sebetulnya adalah kerinduan akan pengalaman menang apa pun. Perilaku ini adalah respons manusiawi terhadap ketiadaan peluang kesuksesan di tempat tinggal mereka sendiri.
Euforia Piala Dunia sekaligus menjadi indikator tentang apa yang sedang hilang dalam kehidupan publik Indonesia. Di balik setiap sorakan kemenangan tersembunyi kerinduan untuk diakui dan dihargai masyarakat. Di balik setiap pesta sepak bola terdapat hasrat untuk menjadi bagian dari sesuatu yang berhasil mencapai tujuannya. Dukungan fanatik terhadap tim asing mengungkapkan kebutuhan fundamental manusia untuk merasakan bahwa hidup sedang bergerak ke arah lebih baik. Dengan demikian, euforia ini bukan hiburan semata melainkan cerminan kecil dari kepedihan sosial yang lebih luas.
Memang, penelitian sosiologi menunjukkan bahwa olahraga memiliki potensi positif dalam membangun kohesi sosial dan identitas kolektif komunitas (Giulianotti & Robertson, 2009). Namun, ketika masyarakat hanya dapat menemukan kohesi sosial melalui dukungan tim asing, bukan untuk proyek pembangunan lokal mereka sendiri, hal ini menunjukkan persoalan struktural yang lebih mendalam. Euforia Piala Dunia menjadi masalah bukan karena hiburan itu sendiri, melainkan karena euforia ini menggantikan energi dan aspirasi kolektif yang seharusnya diarahkan ke pembangunan komunitas lokal. Dengan kata lain, masalah bukan pada sepak bolanya, melainkan pada ketiadaan alternatif lokal yang sama menariknya bagi masyarakat untuk bersatu dan merayakan kesuksesan bersama.
Euforia Piala Dunia di Maluku tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa rakyat telah melupakan persoalan serius mereka. Justru sebaliknya, euforia menunjukkan betapa besar kebutuhan masyarakat akan harapan dan pengalaman kemenangan. Fenomena ini mengungkapkan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat kekurangan momen keberhasilan yang nyata. Sayangnya, kemenangan lebih sering ditemukan dalam sepak bola internasional daripada dalam pengembangan ekonomi lokal. Inilah yang seharusnya membuat pemegang kebijakan gelisah dan termotivasi untuk berubah.
Ironi ini seharusnya membuat pemegang kebijakan mempertanyakan struktur ekonomi dan sosial yang mereka ciptakan. Tentu saja, tugas pemerintah bukan sekadar membangun infrastruktur fisik melainkan menciptakan ekosistem sosial ekonomi yang memberikan peluang kesuksesan nyata bagi rakyatnya. Masyarakat membutuhkan pekerjaan yang layak, pendidikan berkualitas, akses layanan kesehatan, dan keyakinan bahwa masa depan memiliki peluang yang lebih baik. Berbeda dengan asumsi naif yang sering terungkap, mengurangi kesenjangan tidak akan menghilangkan kebutuhan akan hiburan kolektif seperti Piala Dunia. Namun, ketika peluang kesuksesan nyata lebih mudah diakses di komunitas lokal, masyarakat tidak akan lagi “tergantung” pada spektakel internasional sebagai satu-satunya sumber harapan dan kebanggaan bersama. Itulah perbedaan krusial yang jarang disadari pengkritik euforia Piala Dunia di Maluku.
Selama kemenangan-kemenangan nyata itu belum tersedia dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat akan terus meminjam kemenangan dari tempat lain yang lebih jauh. Mereka akan terus bersorak untuk gol yang dicetak oleh pemain asing dan menyaksikan trofi yang bukan milik negara mereka. Tindakan ini bukan mencerminkan ketidakloyalan atau ketidakcintaan terhadap tanah air mereka sendiri. Sebaliknya, hal ini menunjukkan betapa haus masyarakat akan pengalaman menang apa pun yang dapat mereka akses. Perubahan dapat terjadi hanya ketika pemerintah memahami bahwa rakyat bukan butuh kritik atas euforia mereka, melainkan butuh kesempatan nyata untuk menang di kehidupan mereka sendiri. (*)