-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Katamaluku.com 2026






Katamaluku.com–Langgur: Jelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026, Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara menegaskan orientasi pendidikan tak hanya pada peningkatan kualitas, tetapi juga menjadikan nilai-nilai budaya lokal sebagai pondasi utama membangun karakter peserta didik di tengah kompleksitas wilayah kepulauan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Maluku Tenggara, Bin Raudah Arif Hanoeboen menyebut, penguatan sektor pendidikan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kohesi sosial masyarakat.
Hal ini dinilai krusial mengingat tantangan geografis, keterbatasan fiskal, serta kebutuhan pemerataan akses pendidikan di wilayah kepulauan.
"Pendidikan di Maluku Tenggara harus bertumbuh dari akar budaya, menjadikan adat sebagai sumber pengetahuan, pembentukan karakter, serta tanggung jawab kebangsaan," ujar Raudah dalam kegiatan peringatan Hardiknas di Taman Landmark Kota Langgur, Jumat, (24/4)
Raudah menegaskan bahwa kondisi daerah saat ini berada dalam situasi aman dan kondusif. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga harmoni sosial sebagai fondasi utama pembangunan.
"Kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa Maluku Tenggara dalam keadaan baik. Mari kita terus kampanyekan persaudaraan," tegasnya
Mengusung tema lokal "Mengukir Adat Kei Menjadi Ilmu, Menenun Bakti bagi Peradaban," pemerintah daerah menempatkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai fondasi strategis. Sistem hukum adat Larvul Ngabal dan falsafah persaudaraan Ain Ni Ain dinilai memiliki relevansi kuat dalam membentuk karakter peserta didik yang inklusif, toleran, dan berorientasi pada kepentingan kolektif.
Namun demikian, penguatan pendidikan berbasis budaya ini dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah mendasar. Akses pendidikan di wilayah terpencil, distribusi tenaga pendidik, serta keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan nyata yang membutuhkan intervensi kebijakan yang lebih konkret dan terukur.
Sebagai bagian dari refleksi Hardiknas, pemerintah daerah juga menggelar diskusi publik bertajuk "Pendidikan Kepulauan sebagai Pilar Keadilan Sosial: Strategi Transformasi Pendidikan Maluku Tenggara di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Tantangan Geografis".
Forum ini diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi mampu melahirkan rekomendasi strategis, termasuk penguatan model pendidikan adaptif berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi untuk menjangkau wilayah terluar.
Selain agenda diskursif, rangkaian kegiatan Hardiknas turut diisi dengan program edukatif dan kegiatan pengembangan kreativitas pelajar. Pemerintah daerah menilai pendekatan ini penting untuk mendorong kepercayaan diri generasi muda sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap identitas budaya lokal.
Di sisi lain, kegiatan jalan santai yang melibatkan pelajar dan masyarakat dijadikan sebagai medium kampanye sosial untuk memperkuat nilai persaudaraan dan perdamaian di Bumi Larvul Ngabal. Upaya ini sekaligus menjadi penegasan bahwa stabilitas sosial merupakan prasyarat penting bagi keberlangsungan pembangunan pendidikan.
Peringatan Hardiknas tahun ini, dengan demikian, tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk menguji sejauh mana komitmen pemerintah daerah dalam menjawab tantangan struktural pendidikan di wilayah kepulauan serta memastikan bahwa nilai budaya tidak sekadar menjadi simbol, melainkan benar-benar terintegrasi dalam praktik pendidikan sehari-hari. (KM-R4)